PAKPAHAN HUTARAJA

Kumpulan,silsilah,tarombo,toga,pakpahan,hutaraja,op dimpuan,pakpahan,keluarga,dan,keturunan.

Pakpahan Hutaraja

Blog Op.Dimpuan Pakpahan

My Blog List

RAJA SONANG MARGA APA?

Horas.. Slamat datang di blog PAKPAHAN HUTA RAJA. Karna begitu banyak di kalangan generasi Raja Parhutala yg membahas tentang marga raja s...

Followers

Yunani VS Batak

Yunani VS Batak

Samosir di Indonesia

Kalau orang Yunani di Efesus punya agora, orang Batak Toba di Samosir (kemudian juga orang Batak Toba di seluruh dunia) juga punya kawah sendiri untuk berdialog, berdiskusi, adu argumen atau setidaknya untuk “say hello”, yakni lapo tuak. “Lapo” adalah kedai/warung seperti warung kopi. Mungkin seperti Starbucks, Coffee Bean atau Kedai Kopi Ong yang terkenal itu. (Hahaha …) Tempat-tempat yang kerap Saya jauhi karena sudah lumrah menjadi tempat nongkrong sekaligus latihan pecah rekor Nyisip Kopi Terlama yang Pernah Ada. (Saya kurang tahu apakah sudah ada event organizer yang pernah menggagas lomba semacam ini). Betapa tidak, secangkir kopi seharga Rp 40 ribuan bagi seorang karyawan dengan upah dua juta-an per bulan. You know-lah, that’s not like drinking mineral water. Semoga kita sepakat dalam hal ini.

Jika diperhatikan, maka aktifitas berbicara-mendengarkan-berdiskusi di agora ini sangat mirip dengan acara “Markombur” (ngobrol ngalur-ngidul) di lapo–lapo yang sejak dulu menjadi tempat berkumpul kaum bapak di Samosir. Umumnya di zaman masyarakat Toba yang patriarkhis kental ini, kaum ibu lebih memilih untuk diam di rumah atau melakukan kegiatan lain daripada menjadi gunjingan.

Bedanya adalah seperti namanya percakapan di antara para gentleman Batak ini biasanya menjadi semakin hangat berkat adanya minuman tradisional beralkohol yakni tuak. Soal berapa persen kadar yang dikandungnya memang sepengetahuan saya belum ada yang menghitungnya, mungkin nanti bisa jadi bahan penelitian untuk tugas akhir mahasiswa Batak yang siap-siap duduk lagi di semester-semester berikutnya. (Hihihi … ) Seperti halnya minuman beralkohol, tentu akan tidak baik jika dikonsumsi dengan berlebih.

Budaya diskusi orang Batak itu ternyata dibesarkan di lapo tuak. Orang-orang, tua dan muda, setelah pulang bertani selalu berkumpul di lapo tuak. Daerah-daerah seperti Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Simalungun, Tanah Karo, Dairi memang menunjukkan ciri yang sama: Meminum tuak menjadi pemandangan umum pada malam hari, antara lain lantaran iklim daerah-daerah tersebut yang dingin.

@lihat di artikel lain

LAGI SYANTIK LIPSING & DANCE COMEDY

139 Penumpang Tumpah Ke Laut Sulawesi Bersama 48 Mobil & Uang Rp 30 M

Polda Sulsel: 6 Penumpang KMP Lestari Maju Tewas

Polda Sulsel: 6 Penumpang KMP Lestari Maju Tewas

https://youtu.be/mplmPiLzeWc

Op dimpuan pakpahan




TOGA SAMOSIR
(RAJA SONANG)

-GULTOM
-SIDARI/SAMOSIR
-PAKPAHAN*
-SITINJAK

*PAKPAHAN*
-HUTA RAJA*
-LUMBAN BOSI
-SIGODANG POHUL

*HUTA RAJA*
-BAGINDA MULANA*
-BAGINDA MORA

*BAGINDA MULANA*

-BAGINDA RAJA
-DATU RAMOT*
-DATU MARSOLAM

*DATU RAMOT*

-PARTUKKOT BOSI
-OP MOGOT LAUT
-OP TUMANGGU RAJA*
-OP TANGGA
-MARTULUNG AJI
-DATU LANGGAT NI AJI
-LEANGNI AJI
 ----------- (?)

*OP TUMANGGU RAJA*
-OP BABIAT*
-GURU SALISI

*OP BABIAT*
-DATU GALOGA
-OP TALLAHAM*

*OP TALLAHAM*
-OP UJUNG BATU
-OP DIMPUAN*
-OP DATU ONAK
-OP TAROMAR
-OP IMBALO
-OP GUGUN

*OP DIMPUAN*
-GURU SAGALA*
-GURU SULAGAN
-Guru LATONG/LENGGANG
-GURU TARAHIM

*GURU SAGALA*
-OP SORTI
-OP SALUDANG*
-OP MULIA
-OP SUMODING

*OP SALUDANG*
-OP SORIALAM*
-OP SIGANUP
-OP SAUNAGA

*OP SORIALAM*
-OP GUNTAR
-OP TIANGGUR
-OP JINAR/ALBOIN
-OP PARDOMUAN/FILIPUS
-OP KIRUN/SAHAT

Keteranga silsilah di atas sebagai berikut
Op BABIAT anak nya ada dua yaitu datu galoga yang tinggal di sirisi risi dolok sanggul sampai sakarang.
Anak ke dua Op TALLAHAM tinggal di batu na Jagar si jamapolang, dan keturanya banyak yang beredar di berbagai tempat/daerah.
Op Tallahan anaknya ada enam sebagai beeikut; 1.op ujung batu sebagian tinggal menetap di batu najagar sebahagian lagi ada di dolok sanggul, dan daerah lintong ni huta samapi ke huta lumban Ramot desa simamora Hasibuan.
Senentara anak ke dua Op Dimpuan ada yang tinggal di Huta Ri, jabi jabi, Sihikkit, Bonan dolok, Banuarea, Sidikalang, sampai de daerah Bungus pangaribuan, dan ada sebahagian ada yang tinggal di huta pakpahan si Baragas pagaran.
Sementara op Datu Onak belum ada informasi dari keturunanya sampai saat ini.
Dan op Taromar dan keturunanya tinggal di daerah Banuarea dan ada juga yang tinggal di daerah Barus sekitarnya..
Op imbalo dan op gugun belum ada informasi nereka tinggal di daerah mana.

Dan saya sangat berharap kepada semua keturunan op dimpuan apa bila ada yang mau di tambah atau di kurangi tentang tarombo yang tertera di atas silahkan tinggalkan komentar di bawah..
Atau mungkin ada penulisan nama atau urutan yang salah atau kurang pas mari kita sama sama memperbaikinya..

songon hata ni umpasa na mandok.
Asa pauk pauk ni hudali ma ninna tu pago pago tarugi, asa molo tung adng na salah denggan ma ta pauli.

Dakka ni arirang peak di tonga ni onan, 
Molo badan ta pe padao dao anggo tonditta i tong tong ma marsigomgoman.

sahat sahat ni solu sahat mai tu bontean ni tiga ras..
Sai anggiat ma leleng hita mangolu jala sai horas horas..
Mauliate.

Untuk info lebih lanjut silahkan komentar atau hubungi langsung melalui whatsapp.
Silahkan klik link di bawah.

https://api.whatsapp.com/send?phone=6282370993337&text=Nama%20%3A%0AAlamat%20%3A%0Aketurunan%20%3A%0Acontoh%20op.sorialam%20

By:H.Hasintongan Pakpahan
Horas, horas, horas.




asal mula nama pulau samosir _karangan dr. Sortaman Saragih

asal mula nama pulau samosir _karangan dr. Sortaman Saragih

Samosir, Dalam buku “Aku Orang Simalungun”, karangan dr. Sortaman Saragih ada menuliskan tentang asal-usul penamaan Pulau Samosir. Syahdan, tulisannya dalam bukunya itu, terjadilah satu wabah penyakit menular dikawasan yang sekarang disebut Simalungun. Akibat wabah penyakit tersebut, mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Maka sebagai solusinya, disepakatilah agar orang-orang yang masih hidup untuk diseberangkan secara ‘samosir’ ke kawasan yang ada di seberang Danau Toba. Diberangkatkan secara ‘samisir’ (samosor), artinya mereka yang masih hidup itu dipindahkan secara serentak. Dalam Bahasa Simalungun, arti dari kata ‘samisir’ atau ‘samosor’ adalah berangkat(secara) serentak.

Sudah ada Pada Era Kerjaan Nagur?
Kawasan Balige-Muara dan Pemukiman Turunan Toga Samosir, yang menjadi pintu pertama masuk Pemerintahan Kolonial Belanda ke Samosir. (Foto: Repro Google maps Sayangnya, bila dikaji secara mendalam atas setting peristiwa yang dimaksudkan oleh Sortaman Saragih, maka peristiwa itu terjadi pada era Kerajaan Nagur. Itu artinya, terjadinya peristiwa wabah penyakit menular tadi adalah pada kurun waktu sebelum terbentuknya Kerajaan Maropat di di kawasan yang sekarang disebut Simalungun.

Setidaknya, itu adalah akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1400-an. Sekarang yang menjadi pertanyaan: Sudah adakah penamaan atas sebuah kawasan daratan di seberang perairan Danau Toba yang sekarang disebut Pulau Samosir itu?

Bila mempelajari sejarah terbentuknya Pulau Samosir, maka apa yang dikisahkan dalam buku “Aku Orang Simalungun” tersebut, jawabannya adalah tidak benar. Bahwa pada era Kerajaaan Nagur belum ada penamaan atas daratan terhadap kawasan yang di seberang perairan Danau Toba. Seperti telah dituliskan sebelumnya , yaitu dari buku “Sejarah Batak” karangan Op. Buntilan, Samosir menjadi satu pulau baru terjadi sekitar tahun 1900-an. Yaitu saat Pemerintahan Kolonial Belanda mulai menggali kawasan genting di Siogung-ogung Pangururan dengan maksud memutus gerak Sisingamangaraja XII menuju wilayah Tele.

Penggalian kawasan genting Siogung-ogung, sesuai buku karangan Op. Buntilan, selesai tahun 1906. Artinya, secara defacto, kawasan samosir yang dulunya menyatu dengan daratan Pulau Sumatera telah berubah menjadi sebuah ‘daratan yang dikelilingi perairan’ baru dimulai tahun 1906. Atau dengan kata lain, kawasan Samosir berubah dari status tanjung menjadi menjadi pulauitu terjadi pada tahun 1906.

Kawasan Hunian
Turunan Toga Samosir Dengan membandingkan tarikh tahun di atas, yaitu antara akhir tahun 1300-an atau awal 1400-an dengan tahun 1900-an, jelaslah bagi kita bahwa pada era Kerajaan Nagur belum ada penamaan atas Pulau Samosir. Penamaan Pulau Samosir, berdasarkan buku “Sejarah Batak” karangan Op. Buntilan tadi, baru dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda ada tahun 1908, setahun setelah mereka mengalahkan Sisingamangaraja XII di Aek Sibulbulon, Parlilitan.

Wilayah Hunian Turunan ‘Toga Samosir’
Proses menjadikan kata ‘samosir’ menjadi nama sebuah pulau di tengah Danau Toba bukanlah tanpa dasar atau punya latar belakang. Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu, tidaklah main ujug-ujug terhadap penamaannya. Apalagi soal-soal penamaan ini, mereka sepertinya paham betul dengan psikologi masyarakat Batak. Karena ini menyangkut marwah sebuah kaum.

sumber: simarmata.or.id/2016/11/sortaman-saragih-bilang-nama-pulau-samosir-dari-kata-samisir

Penarikan Kapal Sinar Bangun Dari Dasar Danau Toba